Demi Sosial Media

Demi Sosial Media

Tulisan ini adalah refleksi bagi diri sendiri. Harapannya juga sebagai pengingat diri. Mengapa diterbitkan di blog kalau memang tujuannya hanya untuk diingat si penulis? Karena keresahan ini mungkin bukan hanya keresahanku saja. Bisa jadi, ada dari kita (pembaca) yang juga meresahkan hal yang sama. Bermain sosial media di era milenial menjadi sesuatu yang lumrah. Saking lumrahnya, membagikan keseharian terkadang menjadi keharusan bagi beberapa orang. 


Setiap orang memiliki tujuan yang berbeda-beda saat menggunakan sosial media. Ada yang menjadikannya sebagai diary, di mana setiap aktivitas sehari-hari direkam dan dibagikan di Instastory. Ada yang menjadikannya pengingat mini karena setiap hal yang dibagikan bisa diingat lagi suatu saat nanti. Ada yang menghasilkan uang, yaitu para selebgram yang dengan aktif memposting produk-produk 'kesukaan'. Hingga... ada yang membagikan postingan setiap barang yang dimiliki untuk mendapatkan impresi.

Ketika sosial media kita gunakan dengan baik, ada banyak manfaat yang bisa kita dapatkan. Seperti tetap terhubung dengan teman-teman yang jauh secara jarak, mendapatkan informasi yang tepat dan akurat, serta yang lainnya. Namun, terlalu lama membuka sosial media dapat membuat kita kecanduan hingga merasa cemas (baca: Cemas dan Insecure karena Sosial Media). Aku mengenal beberapa orang yang rela membeli barang-barang mahal dan bergengsi hanya untuk tujuan postingan sosial media, bukan karena kebutuhan. Padahal, bukankah postingan bersifat fana? Mungkin membawa rasa puas 1-2 hari, tetapi setelahnya? Ada rasa sesal karena barang yang sudah terbeli hanya bermanfaat satu kali. Apabila kamu belum sampai di titik itu, bersyukurlah... Itu artinya kamu belum menjadi orang yang melakukan sesuatu 'demi sosial media'.

Mengapa Bisa Terjadi?

Dilansir dari CNNIndonesia.com, Erwin Parengkuan, seorang pakar komunikasi, menjelaskan bahwa ada banyak orang yang tidak sadar bahwa mereka sedang disetir oleh sosial media. Banyak pengguna sosial media yang mengunggah foto atau video di Instagram dengan motivasi utama untuk mendapatkan love (tanda disukai) dari pengikutnya. Motivasi itu muncul karena adanya keinginan untuk mendapatkan validasi atau pengakuan dari orang lain. 

Ketika motivasi itu telah menetap dalam pikiran kita, yang ingin kita lakukan selanjutnya adalah mengejar semua trend yang ada agar tidak merasa ketinggalan. Perasaan seperti ini disebut FOMO atau Fear of Missing Out (arti: perasaan gelisah karena takut ketinggalan tren). Misalnya, saat ada peluncuran gawai terbaru atau sedang nge-trend hobi bersepeda atau mengoleksi barang-barang antik, orang-orang yang FOMO tidak akan berpikir panjang dan langung merogoh isi dompet untuk mengikuti trend tersebut. Pada akhirnya, orang-orang seperti ini tidak akan pernah merasa cukup karena kecenderungan untuk hidup di dunia 'dalam layar', bukan di dunia nyata.

Pada akhirnya, orang-orang seperti ini tidak akan pernah merasa cukup karena kecenderungan untuk hidup di dunia 'dalam layar', bukan di dunia nyata..

Pentingnya Self-Control

Satu-satunya solusi agar tidak selalu terpicu untuk melakukan segala hal 'demi sosial media' adalah self-control atau pengendalian diri. Pertama-tama, mari kita menilik hati kita. Sebelum mem-posting suatu foto, tanya pada diri sendiri, "Seberapa pentingkah tulisan/gambar ini?". Atau, sebelum tergoda mengikuti trend untuk membeli suatu barang, beri jeda 1 jam pada dirimu untuk merenung "Apakah aku sungguh membutuhkan barang ini? Apakah ini sungguh suatu kebutuhan, bukan keinginan?"

Kedua, selalu saring apapun. Jangan biarkan sosial media memperalat kita. Yang bisa mengendalikan kehidupan kita saat ini adalah pikiran dan aksi kita sendiri, bukan suatu benda mati, yaitu sosial media. Jadikan sosial media suatu alat yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Kalau kita bisa mengurangi penggunaan sosial media sebagai ajang 'validasi' atau ajang perlombaan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain, maka percayalah, kita tidak akan lagi melakukan apapun 'demi sosial media'. Melainkan, kita melakukan sesuatu yang (harapannya) bermanfaat di sosial media.

Jangan biarkan sosial media memperalat kita. Yang bisa mengendalikan kehidupan kita saat ini adalah pikiran dan aksi kita sendiri.

Baca juga: Belajar Pantang Menyerah dari Orang Tua

Source: 
https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20151104210401-277-89531/pakar-manusia-urban-tak-sadar-diperalat-media-sosial

Comments

  1. Mantab. Jd belajar dari tulisan ini

    ReplyDelete
  2. Mantab,tulisannya makin menginspirasi,salut

    ReplyDelete
  3. Thank you Chindy for this wonderful post! :D

    ReplyDelete
  4. Ahhhh sukaaaa bacanya :D.

    Intinya semua gara2 GENGSI.

    Demi dianggab kaya, dianggab dermawan sedekah aja hrs publikasi dulu :p. Banyaak kan yg begitu. Trus FOMO sendiri kalo ada trend. Orang beginiiii nih, yg ga bisa kontrol dirinya dari FOMO, mending jgn coba2 investasi yg beresiko deh. Lagi trend saham, masuk, tapi bukan Krn ngerti. Cuma ikut2an saham yg sdg hype. Padahal ga sadar hrg udh tinggi. Pas dia beli lgs anjlok wkwkwkwk..

    Medsos memang hiburan, tapi akupun ga mau disetir begitu aja dr medsos. Aku cuma posting kalo memang kepengin posting. Bukan Krn hype. Justru kalo dipikir, segala sesuatu yg hype, udh ga tertarik aku coba. Ngapain, udh psaran :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setujuuu banget dengan mba Fanny. Sekarang memang banyak yang FOMO, jadi apapun dilakukan karena ikut trend saja, bukan karena benar2 paham.

      Delete

Post a Comment