EN-ID Book Translation: Raising an Entrepreneur | Membesarkan Anak Menjadi Seorang Entrepreneur

Author: Margot Machol Bisnow
Translator (English to Indonesian): Chindy Christine
Editor (Indonesian): Anindhita Raras
Publisher: ANDI Publisher Yogyakarta

Original English Copyright ©2016 by Margot Machol Bisnow
Indonesian Copyright ©2020 by ANDI Publisher Yogyakarta



ST (English)

TT (Indonesian)

Introduction (page 1)

It’s the classic question every kid gets asked by (almost) every adult: “What do you want to be when you grow up?” These days, more young people than ever before answer with some version of “I want to be an entrepreneur.”

Entrepreneurs are not only the new doctors and lawyers; they are the new pro athletes and pop stars. Doing your own thing seems both possible and desirable.

 

Pengantar (page 1)

Pertanyaan klasik yang (hampir) semua orang dewasa tanyakan pada setiap anak kecil yaitu “Apa cita-citamu saat dewasa nanti?” Pada masa ini, kebanyakan anak muda menjawab “Aku ingin menjadi seorang pengusaha” dalam berbagai versi.

Pengusaha bukan hanya para dokter dan pengacara baru; mereka adalah atlet profesional dan artis pop baru. Menuruti keinginan Anda sendiri terlihat memungkinkan dan menarik.

 

What about Money? (page 3)

When I talk to others about entrepreneurship, the dreaded M-word often comes up. I found two common misconceptions about entrepreneurs and money.

The first is the fear that if your children spend their life pursuing their passion, they won’t make enough money to live.

Bagaimana dengan Uang? (page 3)

Ketika saya berbicara dengan orang lain tentang kewirausahaan, kata berawalan ‘U’ yang ditakutkan pun sering muncul. Saya menemukan dua miskonsepsi umum tentang para pengusaha dan uang.

Yang pertama adalah ketakutan bawa jika anak-anak Anda menghabiskan hidup mereka untuk mengejar mimpi mereka, mereka tidak akan menghasilkan uang yang cukup untuk hidup.

 

Rule 1 – Support a Passion 
(page 13)

Lots of the moms I talked to didn’t “get” the activities their kids were into. But they also knew that their own interest or understanding was beside the point.
What they went out of their way to support wasn’t so much the activities themselves as the spark 
it brought to their children’s eyes.

Aturan 1 – Mendukung Kegemaran Anak
(page 15)

Banyak ibu yang mengatakan kepada saya bahwa mereka tidak “menemukan” kegemaran anak mereka. Namun, mereka juga tahu bahwa minat dan pemahaman mereka sendiri tidaklah masuk akal. Apa yang mereka dukung bukanlah aktivitas kesukaan anak mereka, padahal aktivitas itu sendiri telah membawa percikan semangat di dalam diri anak mereka.

 

Jason Russell: A Balance Between Limits and Freedom (page 21)

For some moms, the best way to provide support is to say, in effect, “I trust that you know what you’re doing, and I believe you can succeed at whatever you put your mind to.” In my interviews with entrepreneurs and their moms, I heard over and over that granting a child freedom and trust can be every bit as powerful as directly supporting a passion. That was the case with another USC-trained filmmaker, Jason Russell.

Jason Russell: Keseimbangan antara Batas dan Kebebasan (page 26)

Bagi beberapa ibu, cara terbaik untuk memberi dukungan adalah dengan mengatakan, “Saya percaya bahwa kamu tahu apa yang sedang kamu kerjakan, dan saya percaya kamu akan berhasil terlepas dari apapun yang kamu pikirkan.” Dalam wawancara saya dengan para pengusaha dan ibu mereka, saya terus mendengar bahwa memberikan anak kebebasan dan percaya pada mereka sama kuatnya dengan mendukung kegemaran mereka. Inilah yang terjadi pada satu lagi pembuat film lulusan USC, Jason Russell.

Comments

Popular Posts