Turut Kehilangan

Turut Kehilangan

 Tahun 2021 dimulai dengan berat: pandemi Covid-19 yang belum usai, terjadinya kecelakaan pesawat SJ182 rute Jakarta-Pontianak dan lava pijar di Gunung Merapi (9 Jan 2021), serta bencana longsor Sumedang (11 Jan 2021). Dengan beberapa peristiwa tersebut, melanjutkan tahun 2021 menjadi tidak mudah bagi kita, terutama bagi para korban SJ182 dan bencana longsor Sumedang. Sebelum meneruskan menulis, ku terlebih dulu ingin mengucapkan Turut Kehilangan bagi keluarga korban dan kiranya Tuhan Yesus Kristus terus memberikan penghiburan sejati bagi setiap mereka.

Selain berita bencana, aku juga menerima berita duka dari teman-temanku beberapa hari ini. Dua sosok teman yang aku kenal baik telah berpulang ke rumah Bapa dan aku merasa sangat sedih. Sedih karena sudah tidak menghubungi mereka selama 2 tahun terakhir. Sedih karena kepergian mereka terasa sangat cepat dan mendadak. Namun, keluarga dari dua teman ini terlihat sangat kuat. Aku percaya Tuhan saat ini menemani mereka dan memberi kekuatan. 

Ketika ada kejadian duka seperti ini, aku lebih sering menyampaikan "Turut kehilangan" dibandingkan "Turut berdukacita". Hal ini dikarenakan suatu renungan pagi yang pernah ku baca dan terus ku ingat hingga saat ini. Pertama-tama, aku ingin mengutip pesan Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi yang tertuang dalam kitab Filipi 1:21 yang berkata "Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan". Dalam iman Kristen, kematian adalah akhir dari kehidupan di dunia ini dan awal dari kehidupan baru di dalam kekekalan bersama Allah Bapa di sorga. Bagi kita anak-anak Kristus, kematian bukanlah hal yang menakutkan, melainkan merupakan jalan untuk hidup kekal bersama Kristus. 

Menangis dan berduka tentu saja respon normal kita sebagai manusia, apalagi ketika kita kenal dekat dengan almarhum. Namun, tangisan dan rasa sedih yang kita dan/atau keluarga rasakan adalah karena rasa kehilangan. Kebersamaan yang terjalin antara kita dan almarhum tentulah meninggalkan rasa kehilangan karena kita tak lagi dapat berjumpa. Tetapi, almarhum yang kita kasihi telah berada d tempat yang lebih baik. Almarhum telah bertemu Bapa kita yang maha Kasih dan bersukacita bersama para malaikat di sorga. Dari renungan inilah, aku tidak lagi menyampaikan ucapan "turut berdukacita" karena kurang mencerminkan iman Kristen. Untuk menyampaikan empati dan simpati kepada keluarga yang ditinggalkan, aku mengucapkan "Turut merasa kehilangan" dan terus mendoakan agar Bapa boleh terus memberikan kekuatan.

Teruntuk teman-temanku yang sangat ku kasihi dan tidak dapat ku jangkau langsung saat ini, turut kehilangan... Doaku selalu menyertai. Terus miliki pengharapan di dalam Allah Bapa. Dia Bapa penuh kasih yang selalu menemani kita, seperti tertulis dalam 2 Korintus 1:3 yang berbunyi: "Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber penghiburan".

Baca juga: Abide With Me Hymn Lyric / Lirik KJ 329 - Tinggal Sertaku

Source:
https://www.renungan.org/renungan-harian/renungan-harian-turut-merasa-kehilangan/

Comments

  1. Sedih..semoga cepat berlalu,tetap semangat dan bersyukur,masih bisa bernapas sampai saat ini

    ReplyDelete
  2. Banyak bencana di awal tahun ini. Perbaiki diri menjadi lebih baik dan berarti bagi sesama

    ReplyDelete
  3. Tahun 2021 tak kan semakin mudah, tapi kita kan semakin kuat karena Tuhan selalu menyertai semua jalan kita 💞 salam sehat dan kuat selalu Chindy 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya benar banget, Bren. Jaga kesehatan selalu yaaa kita <3

      Delete

Post a Comment