Mengenal Stereotip yang Sering Terjadi Tanpa Disadari

Mengenal Stereotip yang Sering Terjadi Tanpa Disadari Topik stereotip sudah lama menjadi topik yang menarik bagiku. Sudah beberapa kali aku ingin menulis tentang ini, tetapi sering aku urungkan niatku karena topik ini luas cakupannya dan cukup sensitif bagi beberapa kalangan. Hingga pada awal minggu ini, salah satu kelas daring yang aku hadiri membahas topik stereotip dengan cara yang menarik. Oleh karena itu, artikelku kali ini akan membahas stereotip yang sering kita lakukan tanpa disadari. Sebelum mengulas lebih jauh, mungkin masih ada yang bertanya-tanya apa itu stereotip.

Sumber: kompasiana.com

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), definisi dari stereotip adalah konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat. Stereotip bisa terjadi di lingkungan terdekat (keluarga dan pertemanan), lingkungan kerja, sekolah, dan di mana saja. Beberapa contoh nyata dari stereotip adalah "wanita pasti jago masak" (dalam hal gender), "orang Cina itu perhitungan" atau "orang Batak pasti jago nyanyi" (dalam hal suku), "orang berkacamata pasti pintar" (dalam hal penampilan), dan "lulusan universitas ternama pasti lebih cerdas dibandingkan lulusan dari universitas lain" (dalam hal pendidikan).

Konsepsi yang dibuat oleh masyarakat tertentu ini sangatlah subjektif. Belum tentu semua orang dengan gender/suku/penampilan/tingkat pendidikan tertentu sama seperti yang digambarkan oleh sekumpulan orang tertentu. Setiap pribadi itu unik. Meskipun pribadi yang satu (sebut saja A) dan lainnya (B) memiliki suatu kesamaan tertentu (misalnya sama-sama lulusan S1 dari Universitas no 1 di Indonesia), belum tentu kualitas dari A dan B akan sama. Pembentukan pribadi setiap orang berbeda-beda, dan ketika stereotip selalu terjadi, kita tidak bisa melihat seseorang dengan kacamata yang lebih luas.

Coba Simak Cerita Pendek Ini  

Untuk yang versi Bahasa Indonesia, terdapat terjemahannya di bawah teks ini ya.
Sumber: Riley, 2007: 1-2

Terjemahan Bahasa Indonesia:

Beberapa tahun yang lalu, saya pergi ke Hong Kong untuk kunjungan bisnis singkat. Karena kunjungan ke kota yang sangat indah ini akan menjadi kunjungan terakhir saya untuk kurun waktu dekat, saya mengajak istri dan putri saya yang berumur 15 tahun, Katja, untuk berlibur selama dua minggu sebelum pekerjaan dimulai. Kami telah menghabiskan tiga hingga empat hari ketika saya menyadari bahwa Katja tidak seceria biasanya, jadi saya bertanya kepadanya ada apa.
     "Kita bertingkah laku seperti turis," katanya.
     "Tapi, Katja sayang, kita memang turis!"
     Dia mengabaikan pendapat saya, sehingga saya bertanya kepadanya apa yang sedang dia pikirkan.
     "Jadi, kita hanya pergi ke restoran yang didatangi orang-orang Eropa dan yang menunya dalam bahasa Inggris, saya ingin melihat China yang otentik, dan pergi ke restoran yang tidak ada turis di dalamnya."
     Saya menolak godaan untuk memberitahunya bahwa jika dia datang ke restoran otentik China, dia tetap akan bertemu turis, dan memilih untuk berkata,
     "Oh, benar, kita lihat nanti ya."
     Di kesempatan selanjutnya ketika kami ingin makan, kami menemukan satu restoran yang cukup terkenal, dekat Pasar Jade, di mana kami satu-satunya turis di sini. Di restoran ini, tidak ada buku menu, bahkan gambar dan nama makanan yang dipajang di dinding dalam bahasa Chinese
     "Baiklah, Katja," kata saya, "Sekarang giliranmu untuk memesan makanan."
     Dia mengiyakan dan berkata kepada pelayan "Tiga makanan itu ya," menunjuk dengan acak satu gambar makanan di dinding restoran dari meja kami.
     Kemudian, pelayan pun pergi. Sambil duduk, kami melihat makanan yang diantar kepada pelanggan lain: sup ular, tumpukan lidah angsa, daging babi dengan jamur hitam. Setelah beberapa menit berlalu, rasa penasaran kami menjadi-jadi. Apa yang akan dihidangkan kepada kami?
     Pada akhirnya, pelayan datang, dan dengan sigap menghidangkan di depan kami tiga piring berisikan sosis, daging sapi asap, dan telur (tipikal sarapan di negara Barat).
     Sampai hari ini, kami masih tidak tahu apakah makanan tersebut adalah apa yang kami pesan, atau apakah si pelayan memutuskan menu tersebut bagi kami karena kami terlihat seperti orang yang menginginkan daging sapi asap dan telur. Apapun yang terjadi, kejadian ini menjadi pengalaman dan pembelajaran nyata bagi Katja (dia menerima pembelajaran ini dengan sangat baik, di mana dia tertawa terbahak-bahak).

Apa yang Dipelajari

Dari cerita pendek di atas, ada satu kesimpulan penting:
Sumber: Riley, 2007: 1-2

Terjemahan Bahasa Indonesia:

Identitas bukanlah sesuatu yang bisa kita putuskan untuk diri kita sendiri. Identitas kita adalah bagian dari kehidupan sosial kita, sesuatu yang ditentukan oleh apa yang dibangun oleh orang lain (masyarakat di sekitar kita). Dan apabila mereka berada dalam posisi dengan kekuasaan tertentu, seperti si pelayan, mereka dapat membuat keputusan untuk kita, bahkan jika keputusan tersebut untuk kebaikan kita, ada risiko di mana kita bisa saja tidak menyetujui keputusan tersebut.
Identitas bukanlah sesuatu yang bisa kita putuskan untuk diri kita sendiri. Identitas kita adalah bagian dari kehidupan sosial kita, sesuatu yang ditentukan oleh apa yang dibangun oleh orang lain.

Bagaimana? Apakah cerita pendek dan kesimpulan di atas cukup mindblowing (mencengangkan)? Untuk aku secara pribadi, ketika sedang melakukan pembahasan ini di kelas, aku sangat tertegun karena aku sadar akan satu hal. Di mana pun kita tinggal, bahkan ketika kita jalan-jalan ke kota atau negara lain, stereotip adalah hal yang tidak terhindarkan. Kita sering memakai kacamata (sudut pandang) kita sendiri ketika kita menilai atau mengambil suatu keputusan untuk orang lain. Padahal, orang lain bisa saja menginginkan hal lain. Tidak semua yang kita pikirkan karena hal itu disetujui oleh mayoritas (banyak orang) itu benar. Semoga artikel ini bisa memberikan persepsi baru dan bermanfaat bagi pengembangan diri kita semua.  


Penerjemah teks Bahasa Indonesia (Riley, 2007: 1-2): Chindy Christine

Comments

  1. Keren Chindy sharingnya! Aku kayak tertegun juga pas baca ^^ Ditunggu sharing untuk insights2 yang didapat dari kuliah lainnya ya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks a lot yaaaa udah mau baca sharing ini, Sharon 😃

      Delete
  2. Sharingnya bagus banget, bener banget si diakhir artikel dibilang mindblowing wkwk.. mangga mampir lagi ke fahrulegal.com hehe..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pelajaran Berharga Selama 7 Tahun Merantau

Berkarya Walau di Rumah Aja - Gimana Caranya?