Mendengar atau Mendengarkan?

Setelah off lama dari menulis, akhirnya aku kembali lagi! Yippie! Semoga kamu bisa mendapatkan sesuatu dari tulisan ini ya...

Aku kembali menulis lagi dengan membawa satu keresahan: mendengarkan tak semudah yang dibayangkan. Aku kerap kali menjadi pendengar bagi orang lain. Tapi, ketika ada orang yang sedang mencurahkan isi hatinya padaku, aku sering tidak sadar tentang hal ini: apakah aku mendengar atau mendengarkan? Dua kata yang serupa tapi tak sama. 


Sumber: nytimes.com

Menjadi pendengar itu mudah. Orang lain berbicara, aku mendengar. Tapi, sepuluh menit kemudian, aku mungkin tidak ingat apa yang orang itu katakan tadi. Atau, aku masih ingat, tapi aku merasa hal tersebut tidak penting bagiku. Mendengar adalah aktivitas yang dilakukan sambil lalu, masuk ke telinga kiri, mantul dan keluar lagi dari telinga kiri. Sedangkan, mendengarkan membutuhkan teknik yang lebih rumit dan jam terbang yang tinggi. Saat aku mendengarkan apa yang dikatakan orang lain, aku menghidupkan emosiku, perasaanku, dan juga kemampuanku untuk fokus. Apa yang aku dengarkan, secara sungguh aku simak, aku resapi, dan aku pahami. 

Di usia yang hampir 1/4 abad ini, aku baru sadar bahwa tidak mudah untukku mencurahkan isi hatiku. Kenapa? Karena beberapa orang hanya sekedar mendengar, bahkan ada yang sambil main HP atau main game, dan memberi respon "kamu masih mending, itu kan belum seberapa, hidupku lebih susah lagi tau", dan akhirnya aku lebih memilih untuk memendam isi pikiran, keresahan, dan pendapatku. Belajar dari pengalaman ini, aku tidak mau menjadi pendengar seperti itu untuk orang-orang terdekatku. Aku pun mencari tahu bagaimana teknik mendengarkan yang baik, dan aku mau share hasil bacaanku yang bersumber dari satuharapan.com/read-detail/read/belajar-mendengarkan :


Mengaktifkan Emosi

Ketika emosi dan perasaan aktif, kita dapat memiliki empati pada apa yang orang lain ceritakan kepada kita. Emosi ini mampu membantu kita mengatur ekspresi yang murni, tanpa dibuat-buat, saat kita fokus mendengarkan. Apabila itu cerita bahagia, dengan sendirinya ekspresi wajah kita akan tersenyum lebar. Ketika diceritakan hal yang sedih, rasa prihatin dan bersedih otomatis menjadi aktif, hingga seringkali kita mungkin saja merasa kita tidak bisa mengatakan apa-apa. Dengan memiliki emosi yang aktif saat mendengarkan, orang yang bercerita akan merasa sangat dihargai. 


Mengaktifkan Logika

Logika membantu kita mengingat apa yang disampaikan oleh si pembicara secara runtut dan juga mengolah cerita tersebut menjadi suatu analisa. Apabila kita mendengarkan dengan fokus dan logika yang aktif, kita akan mampu menjadi pendengar yang objektif, tidak serta-merta membenarkan atau menyalahkan apa yang sedang disampaikan oleh si pembicara. 


Sumber: shandelgroup.com

Teknik-teknik mendengarkan ini tidak muncul secara instan, tetapi harus dipupuk dan dilatih terus-menerus. Oleh karena itu, di awal aku sudah sempat mengatakan tentang dibutuhkannya jam terbang. Hingga saat ini, aku sendiri masih terus belajar menjadi pendengar yang baik. Aku punya satu prinsip yang membuatku bersemangat untuk terus mendengarkan cerita orang lain: ketika aku mendengarkan, aku sedang belajar hal yang tidak aku dapatkan saat aku berbicara. 

Baca juga: Menerima Kritik dengan Lapang Dada - Gimana Caranya?

Comments

  1. Benar sekali. Kadang kita cuma mendengar. Nice sharing.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks a lot udah mampir, Wirda. Sooo happy *love

      Delete
  2. Thanks for sharing this valuable writing kak Chindy. Untuk jadi seorang pendengar yang bisa mendengarkan dengan baik emang gak bisa secara instant terjadi butuh proses seperti yang kakak bilang butuh jam terbang tinggi (which means banyak2kin belajar untuk mendengarkan plus berlatih dan terus berusaha). Noted to myself!
    Love,
    Jacklin

    ReplyDelete
    Replies
    1. I also thank you for reading this and sharing your thought with me, Jacklyn 💞

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Berkarya Walau di Rumah Aja - Gimana Caranya?

Pelajaran Berharga Selama 7 Tahun Merantau

Kuliah Jurusan Bahasa - Mau Jadi Apa?